Maros lokasi seribu gua

Beberapa waktu yang lalu teman-teman dari BRAMATALA mengadakan kegiatan Adventure Season di daerah tersebut. Walaupun tujuannya adalah menyusuri beberapa gua akan tetapi temen-teman Bramatala juga melakukan Sosiologi Pedesaan terhadap penduduk setempat. Berikut ini informasi tentang maros dan sejarah beberapa gua (untuk artikel penelusuran dapat dilihat disini) yang dapat dihasilkan oleh teman-teman Bramatala. Cekedot....... akh.....

Kabupaten Maros adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di kota Maros. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.619,12 km² dan berpenduduk sebanyak ± 250.000 jiwa. Kabupaten Maros terdiri atas beberapa kecamatan yaitu Kecamatan Batimurung, Camba, Cerana, Lau, Mallwa, Mandai, Maros Bari, Maros Utara, Marusu, Moncongloe, Simbang, Tanralili, Tompu Bulu, dan Turikale. Suku yang berada di provinsi ini yaitu Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Tim melakukan pendataan sosiologi pedesaan dengan warga sekitar mengenai mata pencaharian warga, agama, adat istiadat, pendidikan dan sejarah tentang gua. Adapun rumah warga yang kami jadikan sebagai tempat tinggal dan basecamp yaitu rumah Ibu Siti dan Pak Sulaeman.

Mata pencaharian
Pada umumnya mata pencaharian yang terletak di Dusun Patunuang, Kelurahan Samanggi, Kecamatan Simbang adalah bertani, diantaranya ada yang menanam coklat, menanam kacang,dan menanam padi. Selain bertani warga sekita juga beternak sapi dan ayam, sehingga pertumbuhan ekonomi di sekitar desa tersebut tergolong baik. Kepala keluarga dan para remaja pada umumnya bekerja sebaga buruh di Kota Maros, namun para perempuan khususnya ibu rumah tangga pada pagi hari pergi ke ladang mereka untuk bertani, ketika panen tiba hasil dari pertanian tersebut dikonsumsi untuk sendiri dan ada pula yang dijual sebagai tambahan penghasilan. Di desa ini sangat mudah sekali didapat beras sehingga sangat murah harganya. Rata-rata tiap warga mempunyai sapi sebanyak 3 sampai 15 ekor.

Pendidikan
Tingkat pendidikan yang terletak di Dusun Patunuang, Kelurahan Samanggi Kecamatan Simbang tergolong baik, karena pada umumnya warga sekitar sudah mulai menyadari pentingnya pendidikan. Rata-rata orang tua dari warga berpendidikan hingga Sekolah Dasar bahkan ada yang tidak sekolah, namun setelah warga menyadari pentingnya pendidikan, anak-anak mereka bersekolah hingga tingkat SMA / Aliyah, bahkan ada yang melanjutkan sampai perguruan tinggi. Sekolah yang diminati disana adalah sekolah yang ada unsur islamnya yang disebut Aliyah setingkat dengan SMA. Pada pagi hari anak-anak dan remaja pergi untuk bersekolah dan setelah pulang mereka membantu orang tuannya untuk bertani dan beternak. Ketika sore menjelang anak-anak melanjutkan sekolah keagamaan di sekitar desa tersebut.

Agama
Agama yang dianut oleh masyarakat sekitar pada umunya adalah agama islam, mereka sangat patuh dan taat terhadap ajaran agama Islam, pada sore hari anak-anak belajar ilmu agama di pengajian setempat, namun masih ada yang menganut kepercayaan terhadap leluhur, biasanya mereka memberikan sesaji terhadap leluhurnya, namun hal tersebut telah banyak dilarang oleh pemerintah setempat, karena hal tersebut mendekatkan pada kemusyrikan bagi yang beragama islam, hal ini dibuktikan dengan adanya himbauan yang berupa plang di pinggir jalan dan yang melanggar dikenakan sangsi. Ada juga yang beragama islam tetapi masih mempunyai kepercayaan terhadap arwah nenek moyang.

Adat Istiadat
Pada umunnya warga yang terletak di Dusun Patunuang, Kelurahan Samanggi, Kecamatan Simbang adalah suku Bugis, kebanyakan penduduk sekitar tidak begitu memegang adat istiadat, hanya acara-acara tertentu saja yang masih melakukan acara adat contohnya pernikahan yang di iring-iringkan ke tiap desa. Ada pula kebiasaan yang sangat dilarang di desa tersebut yaitu minum balo (sejenis tuak) yang dapat memuat orang mabuk. Adat isitiadat setempat sudah banyak ditinggalkan jika ada yang bertentangan dengan norma agama.

Sejarah Tentang Gua
Kawasan Taman Nasional Bantimurung, Bulusaraung, merupakan cagar alam yang dilindungi, karena memiliki keanekaragaman hayati dan banyaknya ditemukan gua-gua yang merupakan situs purbakala. Gua-gua yang terletak di Kabupaten Maros Sudah diketahui sejak lama oleh penduduk dan masih banyak juga yang belum diketahui. Kawasan kars tersebut dipopulerkan oleh orang-orang Francis di negaranya, karena memiliki keindahan gua yang menarik dan mempunyai ciri khas tertentu. Saat ini pemerintah sekitar sudah mulai memperhatikan kawasan tersebut untuk dijadikan tempat wisata, dan pemerintah sedang mempersiapkan sumber daya manusia untuk dapat mengelola kawasan karst tersebut secara arif dan bijaksana. Ketika dulu warga sekitar jarang sekali masuk gua karena mereka berkeyakinan di dalam gua terdapat ular besar, namun adapula warga sekitar yang memanfaatkan gua tersebut untuk kepentingan pribadi, seperti mengambil sarang burung walet. Adapun gua yang ditelusuri yaitu :
Gua Lantang Huu
Warga setempat sudah mengetahui sejak lama keberadaan gua tersebut, mereka menyebutnya lantang huu lubang yaitu lubang yang mengecil. Lantang artinya lubang dan huu artinya yang mengecil.
Gua Latif
Dinamakan Gua Latif karena, pada saat ada orang Francis datang ke tempat tersebut dan meminta diantar oleh Pak Latif, sehingga orang Francis itu memberi nama Gua Latif, dan hingga saat ini gua tersebut dikenal dengan nama Gua Latif.
Gua Saloaja
Dinamakan Gua Saloaja karena gua tersebut merupakan aliran air sungai. Saloaja diambil dari kata yang namanya salo yang artinya sungai.
Gua Sulaeman
Dinamakan Gua Sulaeman karena, gua tersebut terletak di belakang rumah Pak Sulaeman, sehingga warga sekitar menyebutnya Gua Sulaeman.
Gua Saripa
Dinamakan Gua Saripa karena saripa adalah nama seorang putri raja yang akan dinikahkan tetapi putri itu tidak mau dinikahkan, maka dia lari ke gua itu dan menetap sampai meninggal. Sehingga warga sekitar menyebutnya Gua Saripa.

Source :

+ Selengkapnya

cerita singkat salewangang dulu

Kabupaten Maros terbentuk secara adminstratif oada tahun 1959 dengan Undang-undang Nomor 29 tahun 1959 tanggal 28 Januari 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi sebagai Bupati pertama di Maros Bapak Nurdin Johan yang diangkat pada tanggal 1 Februari 1960 sebagai Bupati Kepala Daerah Tk II.

Bedasarkan sejarah Maros (Marusu) dalam kurun waktu abad XV sampai abad XVI telah berdiri sebuah kerajaan yang dikenalndengan nama kerajaan Marusu dengan Rajanya yang pertama dikenal dengan nama Karaeng Loe ri Pakere mempunyai wilayah yang cukup luas mulai sebelah selatan Kota Makassar, ke barat sampai ke Selat Makassar dan diapit oleh dua Kerajaan besar yaitu Gowa dan Bone, berdasarkan kajian sejarah tersebut diatas para budayawan, sejarawan, agamawan, unsure generasi muda dan pemerintah mengadakan seminar untuk menelusuri sejarah terbentuknya Maros dan menetapkan tanggal 4 januari 1471 sebagai hari lahir Maros dengan beberapa pertimbangan histories antara lain :

Tanggal 4 adalah pelaksanaan Sholat Jum’at yang pertama kali di Maros setelah sayyid Amrullah Daeng Mabani resmi diangkat sebagai Khadi

Bulan Januari adalah terjadinya peristiwa heroic pemuda pejuang Maros dipimpin oleh Fathul Muin Dg Magading menurunkan bendera Belanda di depan rumah Controleur kemudian merobek bagian birunya dan mempertontonkan kepada masyarakat di depan kantor Karaeng Turikale Januari 1946, penetapan bulan ini bermakna bahwa masyarakat Maros adalah masyarakat pejuang yang siap berkorban untuk bangsa dan negara

Tahun 1471 adalah tahun awal berdirinya Kerajaan Maros dibawah kekuasaan Karaeng Loe ri Pakere (Raja I).

Source : kurusetra |Syamsul Marlin
+ Selengkapnya

Bantimurung rii Butta salewangang

Sejuknya udara dan indahan alam bantimurung, tentunya jadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang telah menginjakan kakinya di lokasi wisata alam bantimurung.

Gemercik suara air yang jatuh dari bebatuan, dan keunikan cairan busa yang keluar dari dalam pori-pori batu dinding gua, dan mengeras mengumpal berbetuk runcing (stalaktit) yang ada di dalam dinding gua mimpi, serta beraneka ragam specis kupu-kupu, tentunya semakin membuat kita betah terus berada di bantimurung.

Wisata alam batimurung, adalah salah satu objek wisata yang ada di kabupaten Maros, yang selama ini jadi objek wisata andalan yang ada di provinsi Sulawesi Selatan.

Selain objek wisata bantimurung, di bumi Butta salewangang, atau dikenal dengan kabupaten Maros, juga terdapat beberapa lokasi objek wisata alam lainya, seperti gua-gua peninggalan bersejarah di lokasi wisata alam camba, yang memiliki panorama keindahan bebukitan, dimana banyak berkeliaran binatang sepeti monyet dan beraneka ragam burung yang setiap harinya dapat di jumpai di wilayah hutan.

Belum lagi keindahan alam lokasi objek wisata alam sumpang labbu", serta objek wisata bersejarah leang-leang, yang setiap harinya ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.

Banyaknya lokasi objek wisata alam yang ada di bantimurung, tentunya menjadi salah satu penunjang terbesar kas daerah tersebut, namun bukan saja sektor pariwisata yang menjadi andalan pemerintah daerah Maros.

Struktur tanah pegunungan yang mengandung unsur semen dan batu marmer yang ada di bumi Butta salewangang, tentunya juga menjadi andalan di sektor pertambangan, yang tentunya jadi pemasok kas APBD kabupaten Maros.

"Tau ugi ri butta salewangang"
Masyarakat Maros yang sebagian besar adalah tau ugi atau orang bugis, sangatlah menghargai adat dan menjujung tinggi tradisi budaya siri "malu", dimana mereke lebih mengutamakan persaudaraan.

Sebagian besar penduduk Maros, hidup dengan menggarap sawa (bertani), selebihnya menggarap kebun, tambak, wiraswasta, serta pegawai dikantor-kantor pemerintah, hal ini disebabkan hampir enam puluh persen dataran kabupaten maros, adalah daerah pertanian "sawa".

Keuletan masyarakat Maros, dalam bekerja dan membangun usaha, dapat dilihat dengan banyaknya orang maros yang sukses mendirikan usaha, baik didaerahnya sendiri, maupun di daerah perantauan.

Hampir semua daerah di bumi pertiwi ini, terdapat perantau orang maros, bahkan tidak sedikit dari tau marusu " orang maros", sukses dinegara luar menjadi tenaga kerja (TKI), seperti halnya di negara tetangga malaysia, dan arab saudi.

Walaupun orang Maros, sukses di daerah perantauan, namun tau marusu, tidak akan pernah melupakan daerah mereka, hal ini tentunya di karenakan, mereka telah menanamkan rasa keciantaanya terhadap daerah "butta salewangang".

+ Selengkapnya